{Oleh: Husnul Isa Harahap}
Jelas sudah siapa yang terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Hasil Kongres II Partai Demokrat (PD) pada tanggal 23 Mei 2010 di Hotel Mason Pine, Padalarang, Bandung menunjukkan Anas Urbaningrum terpilih sebagai ketua Umum Partai Demokrat periode 2010-2015. Anas Urbaningrum berhasil mengungguli dua calon ketua umum lainnya yakni Marzuki Alie dan Andi malaranggeng. Bahkan Anas Urbaningrum berhasil unggul pada putaran pertama dan putaran kedua.
Pada pemilihan putaran pertama Anas Urbaningrum (Nomor urut 1) memperoleh 236 suara (44,44 persen). Calon nomor urut 3, Marzuki Alie memperoleh 209 suara (39,36 persen), serta Andi Malaranggeng (Nomor urut 2) memperoleh 82 suara (15,44 persen). Diputaran kedua Anas Urbaningrum (Nomor urut 1) berhasil memperoleh 280 suara (52,73 persen), sementara Marzuki Alie (Nomor urut 2) memperoleh 248 suara (46,70 persen), dan tidak sah 3 suara (0,56 persen). Adapun jumlah total suara 531.
Kepemimpinan Inklusif
Kemenangan Anas Urbaningrum jelas merupakan sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan kemenangan Megawati Soekarno Putri di Partai Demokrasi Indonesia dan kemenangan Aburizal Bakrie Partai Golkar beberapa waktu lalu. Jika kemenangan Megawati Soekarno Putri dipengaruhi faktor kharisma dan tradisi partai, maka kemenangan Aburizal Bakrie dipengaruhi oleh faktor lain terutama pragmatisme pemilih yang berorientasi pada kekuasaan.

Karikatur dikutip dari situs matanews.com
Sementara itu, kemenangan Anas Urbaningrum lebih dimaknai sebagai kemenangan yang dipengaruhi persepsi para kader Partai Demokrat terhadap sikap politik dan etika politik Anas Urbaningrum. Sebagaimana diketahui Anas Urbaningrum teridentifikasi sebagai orang yang sangat elegan, tidak tergesa-gesa, membawa inspirasi untuk membentuk budaya organisasi yang santun, sehingga membuat orang seolah-olah melihat ada sosok Susilo Bambang Yudhoyono dalam diri Anas Urbaningrum. Dalam hal ini empati telah dibentuk lewat sentuhan emosional yang dibangun dari hati ke hati.
Oleh sebab itu, terdapat beberapa kenyataan khusus dari kasus pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat bahwa: Pertama, dalam politik, ada keadaan khusus yang membuat modal sosial sangat berpengaruh dalam mengalahkan modal materil. Kedua, penguatan citra personal tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Tidak kalah penting citra personal juga harus berbasis pada selera publik (para kader). Ketiga, sentuhan komunikasi simbolik belum tentu berpengaruh terhadap para kader secara internal. Keempat, politik restu -meski sangat penting- tidak selamanya dibutuhkan untuk membangun sebuah dukungan yang solid dalam rangka memenangkan kompetisi pemilihan.
Harapan Perubahan
Sebuah pelajaran besar dapat ditarik dari Kongres II Partai Demokrat di Bandung beberapa waktu lalu yakni, sudah tidak ada alasan bagi partai politik untuk tidak melangkah menjadi partai progresif. Terlepas dari apakah Anas Urbaningrum akan dapat menjadi tokoh sentral dalam mengambil keputusan atau tidak, Partai Demokrat sebagai partai muda telah menunjukkan bahkan mengajarkan partai-partai tua (terutama Golkar dan PDIP) upaya membangun budaya organisasi yang berbasis persaingan sehat dan santun. Partai demokrat juga menunjukkan corak kaderisasi partai yang mengedepankan kewibawaan para peserta kongres karena berhasil tidak meniru sistem yang berlaku pada partai lain, yang sudah terkesan manipulatif. Dengan demikian ada harapan besar bahwa partai demokrat dapat menjadi contoh partai transisi yang mengubah watak organisasi kepartaian di Indonesia.
Dalam berbagai tulisan banyak pengamat politik yang mengatakan Partai Demokrat merupakan partai yang memiliki perpaduan karakter antara Golkar dan PDIP. Terutama karena di Partai Demokrat ada tokoh kharismatis seperti Megawati (PDIP) sekaligus ada model pergantian kepemimpinan yang bersifat kompetitif seperti di Partai Golkar. Adanya perbedaan model keterpilihan Ketua Umum Partai Demokrat dengan Ketua Umum PDIP dan Golkar, tentu diharapkan membawa perubahan dalam tubuh Partai Demokrat. Oleh sebab itu penting bagi Partai Demokrat menjaga performa partai yang sedang baik pasca kongres II.
Penutup
Sebagai partai transisi, paling tidak ada empat tugas transisi yang perlu segera ditindaklanjuti. Transisi pertama, mengevaluasi mitra koalisi, atau paling tidak, menentukan waktu yang tepat kapan masa koalisi dihentikan atau dilanjutkan demi pertimbangan kebijakan strategis partai. Langkah ini diperlukan agar masyarakat dapat lebih mudah melakukan penilaian terhadap kinerja Partai Demokrat. Sejauh ini persepsi terhadap kinerja pemerintahan yang positif hanya identik dengan SBY, sementara hal-hal negatifnya dianggap sebagai kreasi partai politik, termasuk kreasi Partai Demokrat dan para kadernya ditingkat/level elit partai.
Transisi kedua, memperkuat proses pemilihan yang demokratis ditingkatan internal untuk memilih para eksekutif partai di daerah bahkan sampai ketingkatan terendah. Bukan rahasia kalau selama ini sebagian pengurus daerah merupakan pilihan pusat. Akibatnya seringkali terjadi benturan kepentingan antara kepentingan pengurus pusat dengan pengurus daerah. Jadi merupakan tantangan besar bagi partai demokrat untuk bisa menularkan praktek demokrasi internal yang ada dilevel nasional di tingkat lokal.
Transisi ketiga, memperkuat identitas partai dengan mempersiapkan kader partai yang potensial untuk maju dan menang dalam pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada). Kalau selama ini sebagian calon kepala daerah dari partai demokrat adalah calon dari luar partai, maka dimasa yang akan datang, para kader harus diberi kesempatan lebih besar. Bahkan partai demokrat harus mendisain cara yang tepat agar kader-kadernya dapat populer sehingga layak maju sebagai calon kepala daerah.
Transisi terakhir, menyiapkan tokoh partai yang baru selain Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Oleh sebab itu, tugas besar para petinggi Partai Demokrat adalah memikirkan bagaimana caranya menyembunyikan popularitas SBY, sehingga ada sosok baru yang mendapat kesempatan untuk menjadi populer dan kepopulerannya itu harus identik dengan Partai Demokrat. Tentu saja popularitas tersebut hanya dapat dibangun sejak dini dalam rangka menjadi kader unggulan pada Pemilu 2014.^
Husnul Isa Harahap Mengajar Ilmu Politik & Senior Editor Jurnal Politeia - Departemen Ilmu Politik FISIP USU.
Jelas sudah siapa yang terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Hasil Kongres II Partai Demokrat (PD) pada tanggal 23 Mei 2010 di Hotel Mason Pine, Padalarang, Bandung menunjukkan Anas Urbaningrum terpilih sebagai ketua Umum Partai Demokrat periode 2010-2015. Anas Urbaningrum berhasil mengungguli dua calon ketua umum lainnya yakni Marzuki Alie dan Andi malaranggeng. Bahkan Anas Urbaningrum berhasil unggul pada putaran pertama dan putaran kedua.
Pada pemilihan putaran pertama Anas Urbaningrum (Nomor urut 1) memperoleh 236 suara (44,44 persen). Calon nomor urut 3, Marzuki Alie memperoleh 209 suara (39,36 persen), serta Andi Malaranggeng (Nomor urut 2) memperoleh 82 suara (15,44 persen). Diputaran kedua Anas Urbaningrum (Nomor urut 1) berhasil memperoleh 280 suara (52,73 persen), sementara Marzuki Alie (Nomor urut 2) memperoleh 248 suara (46,70 persen), dan tidak sah 3 suara (0,56 persen). Adapun jumlah total suara 531.