Gelar Pilpres Tahap Pertama: Bagaimana Partisipasi Masyarakat Binjai?

{ By. Husnul Isa Harahap }

Ramainya pembicaraan seputar pemilu presiden langsung membuat kita kembali tergugah. Betapa pentingnya sebuah pesta demokrasi dalam sistem pemerintahan kita. Kita mulai menimang-nimang siapa calon presiden pilihan kita. Kita gundah apakah “jagoan” kita akan masuk nominasi atau tidak. Kita bimbang jangan-jangan calan dari koalisi partai A, B, C-lah yang akan jadi pemenang, sementara koalisi partai D dan E hampir-hampir tidak kita perhitungkan dalam taksiran imajinatif kita.

Kita menjadi sangat peduli dengan angka-angka yang muncul dalam setiap detik masa pemilihan dan penghitungan suara. Hati kita berdebar-debar. Hampir tak terbersit dalam fikiran kita apakah calon yang menang akan mampu menjawab persoalan ke Indonesiaan yang menumpuk. Yang lebih kompleks dari sekedar tumpukan sampah. Kini siapa yang tak berani menawar harga ke Indonesiaan hanya dengan sekeping uang logam. Dan karenanya orang mulai banyak memikirkan tentang impian kebangsaan yang baru yang sama sekali tidak Indonesia.

Mungkin gambaran tentang suasana pemilu waktu itu, ya seperti itu. Sementara hasil akhirnya adalah rezim yang sedang memegang tampuk pemerintahan hari ini. Kualitas kerjanya masih dinilai kurang memuaskan. Rezimnya lebih sering dinilai dengan sebutan “rezim iklan”. Begitupun sebagian kalangan masih menilai pemerintah hari ini sudah bekerja lebih baik. Barangkali persepsi yang pertama diwakili oleh kalangan akivis atau mereka yang dikatakan melek politik yang mungkin sampai hari ini belum melihat banyak perubahan. Sementara persepsi yang kedua diwakili oleh kalangan yang puas dengan keadaan hari ini, alih-alih sering dikatakan terbuai dengan janji manis dari pemerintah. Benarkah ???

——-

Kita masuk pada topik isi tulisan. Studi pada tulisan ini terlihat sebagai kebalikan dari apa yang telah saya ditulis diawal. Pemilu Presiden Langsung Tahap I dianggap tidak lebih istimewa. Golput telah mencapai angka tertinggi yakni 28,66 %. Pendek kata antusiasme pada waktu itu telah menurun. Mengapa ???

——-

Sekarang dari studi ini mari kita lihat pilpres tahap I dari dua hal pokok; (1)Bagaimana Respond masyarakat kota Binjai terhadap Pilpres tahap I; (2)Apakah terdapat pergeseran suara dari perolehan suara partai politik dalam pemilu legislatif terhadap calon presiden dan wakil presiden dalam pemilu presiden.

Pertama, suara golput telah meningkat. Sebabnya karena ternyata masyarakat menganggap bahwa pemilihan presiden tahap I bukan hal yang istimewa. Hajatan besar demokrasi yang bernama pemilu presiden dinilai sebagai pesta elit. Tidak terlihat antusiasme akan kuatnya komitmen dari elit politik untuk mengemban aspirasi rakyat. Pun hadirnya tokoh reformis dalam paket calon juga ternyata tidak menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk menggunakan hak pilih. Bukan hal baru kalau sebagian kalangan terpelajar dan kalangan masyarakat berpendapatan tinggi memiliki persepsi seperti ini. Terdapat juga alasan kalau tak ada pasangan yang ideal dalam pilpres/wapres.

Selain itu minimnya kegiatan kampanye menyebabkan tidak terbangunnya ikatan yang kuat antara calon pilpres/wapres dan kosntituen. Kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan bisanya memerlukan ikatan emosional itu untuk memotifasinya bergerak menuju TPS. Sementara sebagian mereka yang pengangguran tak habis pikir karena tidak terdapat setoran khusus yang biasanya banyak muncul dalam momen pemilu.

Grafik 1

Perbandingan Suara Sah dengan Golput pada Pilpress I

Kota Binjai – Sumut

Tabel 1

Nb. Warna putih adalah jumlah golput dalam tiap kecamatan di kota Binjai. Jumlah golput ini adalah hasil selisih antara suara sah dengan suara tidak sah dan pemilih yang tidak menggunakan hak pilih. Sedangkan warna abu-abu adalah suara sah dalam pilpres I kota Binjai.

Sumber: Diolah dari data KPU Kota Binjai

Para pengagum Gusdur punya argumentasi khusus mengapa mereka absen dalam pelaksanaan pemungutan suara di TPS waktu itu. Tidak lolosnya Gusdur dalam seleksi awal untuk calon presiden, menyebabkan Gusdur harus puas berada dalam posisi sebagai publik figur. Namun berbeda dengan sebagian sikap para pengagumnya yang menumpahkan ketidakpuasannya dengan tidak menggunakan hak pilih. Mereka percaya bahwa Gusdur adalah solusi bagi persoalan kebangsaan.

Tabel 1

Potret Hasil Pilpress I Kota Binjai – Sumut

Identifikasi

Jumlah

%

Pemilih yang menggunakan hak

111.649

71,92

Pemilih yang tidak menggunakan hak

43.630

28,099

Tidak sah

884

0,65

Golput

44.514

28,66

Sumber: Diolah dari data KPU Kota Binjai

Kedua, terdapat pergeseran suara dari perolehan suara partai politik dalam pemilu legislagif terhadap calon presiden dan wakil presiden dalam pemilu presiden. Misalnya saja kasus perolehan suara calon presiden/wapres no.urut 1 yang terlihat berjumlah 19.197 suara. Padahal calon no urut 1 berasal dari Partai Golkar yang pada pemilu legislatif berjumlah 26.885 suara. Ini artinya 7.688 pemilih yang sebelumnya memilih partai Golkar mengalihkan suaranya ke calon presiden/wapres yang dicalonkan oleh partai lain.

Grafik 2

Potret Pergeseran Suara Partai dalam Pemilu Legislatif

terhadap Pilpress I Kota Binjai – Sumut

Tabel 2

Nb. Nomor 1, 3, 5, 7, 9 adalah suara partai pada pemilu legislatif 2004, dan nomor 2, 4, 6, 8, 10 adalah perolehan suara dalam pilpres/wapres.

Sumber: Diolah dari data KPU Kota Binjai

Kemudian dalam kasus lain pasangan capres/wapres no urut 4 dari partai Demokrat terlihat memperoleh pemasukan suara yang signifikan. Pasangan ini telah memperoleh 44.257 suara di kota Binjai. Sangat kontras dengan perolehan suara partai Demokrat yang sebelumnya pada pemilihan legislatif memperoleh 10.447 suara. Pergeseran suara juga dapat dilihat dari suara pasangan no.urut 2 yang diusung PDIP. Pendeknya kita melihat tidak terdapat kekonsisitenan loyalitas pemilih pada pemilu legislatif dengan pemilu pilpres/wapres meskipun para calon presiden/wapres tetap merupakan usungan partai politik.

Pergeseran suara terjadi begitu drastis. Pemilih terlihat begitu liar menyilang garis orientasi kepartaian yang sebelumnya menjadi trend dari hasil pemilu serta kualitasnya. Yang jelas fenomena ini menyajikan tafsiran tentang banyak hal dalam konteks pemilu dan para pesertanya. Diantara yang dapat dilihat adalah bahwa; pertama, para pemilih semakin otonom dalam menentukan pilihannya. Kedua, efektivitas mesin politik (partai) sedang dipertanyakan. Ketiga, faktor kharisma dan kefiguran menjadi sangat penting dalam pemilihan presiden dan wakil presiden langsung. Tentang fenomena golput tak perlu terlalu dikhawatirkan karena hal ini menggambarkan stabilnya sistem politik. Cukup Tugas pemerintah dan para elit politik untuk merubah orientasi politiknya agar lebih berorientasi kerakyatan.

Ditulis dengan judul Asli: Partisipasi Masyarakat Kota Binjai: Studi Analisis Terhadap Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Langsung 2004 Tahap I, ketika masih berstatus Mahasiswa Ilmu Politik FISIP USU. Lebih lengkap dapat dilihat dalam Jurnal Ilmu Politik – POLITEIA – Vol. 1 No.1 Juni 2005 terbitan USU Press –Medan.

2 Tanggapan to “Gelar Pilpres Tahap Pertama: Bagaimana Partisipasi Masyarakat Binjai?”

  1. Muharram Karim Hilal Says:

    ANDA BISA MEMBANDINGKAN TEMUAN ANDA DENGAN HASIL PILKADA BINJAI ? TERIMAKASIH

  2. Husnul Isa Harahap Says:

    Saran yang sangat positif. Saya sangat setuju bahwa temuan dalam tulisan tersebut masih harus disandingkan atau diuji kembali pada Pilkada di Kota Binjai. Dan memang saya memiliki rencana untuk melakukannya meski masih belum bisa direalisasikan. Begitupun saya sudah mencoba membandingkannya dengan Pilkada DKI. Hasilnya dalam Pilkada di DKI terdapat fenomena yang kurang lebih sama; figur masih tetap penting, pemilih semakin otonom dan mesin partai bukanlah segala-segalanya. Sementara fenomena PKS di DKI adalah fenomena yang membutuhkan penjelasan yang lain (khusus). Singkatnya, semua fenomena ini adalah fenomena yang tetap menarik untuk dicermati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: