The Prince: Mengungkap Praktek-Praktek Absolutisme Kekuasaan “Dulu”, “Kini” & “Nanti”

{By. Husnul Isa Harahap}

Pandangan Umum: Nicolo Machiavelli sering dianggap “pelopor pemisahan antara ilmu politik dan etika” (Budiardjo; 2000, hal. 19). Anggapan ini biasanya didasari oleh karya Machiavelli The Prince. Sebuah “buku” yang disebut dalam beberapa literatur ditujukan kepada seorang Raja Italia yang berkuasa pada saat itu. Isinya tidak lain adalah bebarapa saran Machiavelli kepada raja, agar raja agar melakukan tindakan penting guna mewujudkan kehormatan bangsa Italia. Saran itu beliau sampaikan diakhir tulisannya, setelah mengungkapkan beberapa tips memperoleh kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, dan memperluas kekuasaan.

Pada kenyataanya The Prince adalah buku yang terdiri dari duapuluh enam bab. Namun bila diperas dalam beberapa ide pokok pikiran maka buku tersebut seyogiyanya hanya terdiri dari tiga pokok pikiran saja. Ketiga pokok pikiran itu adalah:

1. Idenya tentang negara atau “kerajaan mandiri”.

2. Idenya tentang model “otonomi kekuasaan”.

3. Idenya tentang “moralitas politik”.

Ketiga pokok pikiran ini kalau bisa dikatakan adalah “manifesto politik” Machiavelli dalam menghadapi situasi negara Italia yang tidak mengalami kepastian. Italia ketika itu menjadi negara yang kurang dihormati dan selalu menghadapi serangan dari negara lain, termasuk kerajaan Prancis maupun Spanyol. Gagasannya tidak terlepas dari pengalamannya sebagai Diplomat.

Dapat di katakan kalau apa yang dia sarankan kepada raja adalah ungkapan ketidaksenangan Machiavelli terhadap kondisi Italia yang terpecah-pecah. Namun yang menarik adalah bahwa Machiavelli sepakat kalau tugas raja adalah menciptakan kemakmuran bagi bangsa Italia. Dalam konteks pada masa itu, peran raja yang dituntut oleh Machiavelli adalah untuk menyelamatkan rakyat Italia yang telah menderita karena serbuan bangsa asing. Sebuah cita-cita yang mulia.

Tentang The Prince: Di awal tulisannya Machiavelli mengungkapkan ada dua bentuk kerajaan. Yang pertama “Kerajaan Warisan” dan yang kedua adalah “Kerajaan Baru”. Kerajaan baru itu dapat dibagi pula menjadi dua bagian, yakni “Kerajaan Baru Sama Sekali” dan “Kerajaan Gabungan”. Penggolongan jenis-jenis kerajaan ini dilakukan Machiavelli untuk mempermudah analisisnya tentang bagaima mengelola kerajaan-kerajaan serta bagaima karakteristiknya.

1. Tentang Kerajaan Warisan.

Kerajaan ini lebih mudah dikelola karena sedikit kesulitan untuk dalam mengelolanya. Hal ini disebabkan karena lembaga sosialnya sudah terbentuk. Demikian juga kondisi sosial politiknya. Tugas raja dalam kerajan ini hanyalah menjaga perasaan rakyat agar rakyat tetap mencintai raja.

2. Tentang Kerajaan Baru Yang Asli & Kerajaan Baru yang Gabungan.

Kerajaan ini lebih sulit dikelola karena; (1).Biasaanya rakyat punya harapan tinggi dengan pemimpinnya. Sementara raja belum bisa memenuhi harapan-harapan rakyat itu. Raja lebih sering membebani rakyat. Akibatnya rakyat protes. Namun raja tidak terima dan membungkam rakyat. Akhirnya raja dimusuhi rakyat. Pola hubungan ini tidak menguntungkan bagi raja. Sebaliknya musuh kerajaan akan memanfaatkan kekuatan rakyat untuk merebut kerajaan; (2).Biasanya kerajaan gabungan terdiri dari beberapa wilayah. Jika wilayah itu adalah bekas kerajaan lama maka keluarga kerajaan lama suatu saat akan mengorganisir rakyat untuk berontak; (3).Masyarakatnya yang heterogen menyebabkan raja harus bekerja keras.

Oleh sebab itu tugas raja yang pertama adalah menumpas keluarga kerajaan lama. Namun tidak untuk memusnahkan sistem sosial yang sudah terbentuk. Yang kedua adalah penguasa dapat tinggal didaerah yang bergolak. Ini memudahkan penguasa untuk menertibkan kerusuhan, dapat berhubungan dengan rakyat yang tidak puas, serta efektif menciptakan rasa takut bagi rakyat. Ketiga adalah raja dapat mendirikan koloni (lebih hemat biaya) atau Infanteri (mahal). Selanjutnya jika persoalan dalam negeri sudah dapat diatasi maka tugas raja selanjutnya adalah bersekutu dengan negara tetangga yang lemah untuk melemahkan negara kuat. Namun apabila ini berhasil hak milik penduduk jangan di rampas.

Dari ketiga kerajaan ini Machiavelli kemudian berangkat pada analisis bagaimana kerajaan itu dikelola dan bagaimana posisi kerajaan itu dalam tataran politik internasional. Hasilnya sangat bervariasi. Machiavelli berhasil menemukan kelemahan beberapa negara dalam satu kasus tertentu dan kelebihan beberapa negara dalam kasus tertentu. Beberapa kelemahan yang ada, di sampaikan Machiavelli sebagai sebagai hal-hal yang tidak pelu dilakukan dimasa mendatang. Sementara kelebihan-kelebihan yang ada menjadi sarannya kepada para penguasa untuk dilaksanakan pada kasus yang sama.

Tidak hanya didalam politik internasional, politik dalam negeri bagi Machiavelli juga sangat penting. Kedua-duanya –baik politik dalam negeri dan luar negeri- adalah penyebab kejatuhan penguasa. Namun Machiavelli masih percaya bahwa politik dalam negeri adalah kunci keberhasilan politik Luar Negeri.

Setidaknya, karena Machiavelli menganggap politik dalam negeri adalah yang utama, maka hampir seluruh saran-sarannya ditujukan bagi politik penguasa di dalam negeri. Machiavelli berbicara tentang perlunya skill kepemimpinan bagi penguasa, tentara reguler yang kuat, kekuatan ekonomi yang tangguh, serta keamanan rakyat yang terjamin. Sampai-sampai Machiavelli berbicara tentang bagaimana memilih menteri, bersikap pada bangsawan, bersikap pada rakyat,

Pemikiran Politik: Sampai saatnya, The Prince kemudian dianggap oleh beberapa kalangan sebagai karya yang merepresentasikan pemikiran Machiavelli tentang politik. Karena memang benar bahwa secara kebetulan atau tidak dalam buku tersebut terdapat beberapa gagasan politik yang pada saat itu sampai dengan hari ini menarik untuk dicermati.

1. Idenya tentang negara atau “kerajaan mandiri”. Kerajaan-keraajaan yang ada pada masa itu (terutama Italia) sebagian sangat bergantung dengan bantuan negara lain, tidak memiliki pasukan yang kuat serta lemah secara ekonomi. Pendek kata negara-negara pada masa itu tidak memiliki kemandirian sumberdaya politik. Selain itu pemberdayaan kekuatan rakyat sangat jarang dilakukan, kecuali oleh sebagian kecil negara seperti kerajaan Romawi ataupun Turki. Oleh sebab itu menurut Machiavelli raja harus memiliki tentara sendiri yang bersendikan pada kekuatan rakyat. Rakyat juga harus didorong untuk berkarya sehingga mampu menggerakkan ekonomi nasional, sehingga tidak bergantung pada negara lain. Selain raja juga harus menghindari persekutuan dengan negara kuat. Ini artinya bagi Machiavelli kemandirian negara cukup penting dalam politik internasional.

2. Idenya tentang model “otonomi kekuasaan”. Rajalah yang berhak menentukan semua keputusan politik. Konsep bahwa Baik itu didalam negeri maupun diluar negeri. Untuk keperluan luar negeri raja adalah pihak yang paling berhak menentukan persekutuan ataupun peperangan. Didalam negeri para menteri diangkat oleh raja. kekuasaan Raja harus dicintai oleh rakyat.

3. Idenya tentang “moralitas politik”. Sepertinya Machiavelli beranggapan kalau moralitas adalah hal yang terpisah dari politik. Baginya Politik mungkin memiliki defenisi tersendiri tentang moral. Machiavelli menggambarkan betapa sulitnya tujuan politik itu diraih ketika moral dijadikan sandaran. Kalaupun tujuan politik itu dapat diraih maka hal itu terjadi karena faktor keberuntungan saja. Agar moral tidak sia-sia maka dalam politik itu dapat digunakan sebagai instrumen kekuasaaan, terutama untuk mengelabui musuh ataupun rakyat demi kepentingan kekuasaan.

Dari The Prince tanpa kita sadari sebenarnya Machiavelli telah berbicara dalam tataran perbandingan politik. Machiavellli selalu membandingkan bagaimana masing-masing kerajaan terbentuk, bagaimana proses pengelolaannnya dalam konteks politik kekuasaan dan sekaligus memperlihatkan apa kelemahan serta kelebihannya.

Lebih jauh lagi Machiavelli telah memaparkan apa kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada tiap-tiap jenis kerajan. Keberhasilannya dalam mendeskripsikan sebagian kemungkinan yang terjadi sepertinya telah menambah keyakinannya bahwa para raja perlu melakukan langkah-langkah yang direkomendasikannya dalam tulisannya itu.

The Prince untuk sebahagian hal adalah kritik Machiavelli terhadap raja-raja Italia terdahulu. Terutama atas kelemahan pengaturan akan angkatan perangnya. Yang lain adalah karena sifatnya yang bermusuhan dengan rakyat serta tidak memiliki kemampuan menjalin persekutuan dengan bangsawan. Yang terpenting mereka tidak memiliki kesiapan yang baik dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi terutama saat masa damai dan karena mereka sangat percaya pada nasib baik.

Adalah sangat sukar dipercaya kalau ternyata kita mengakui bahwa kita telah dapat memahami pemikiran Machiavelli melalui “The Prince”. Ini dikarenakan The Prince adalah karya yang ditulis dan dipersembahkan kepada raja. Adalah sebuah kenyataan kalau tidak mudah bagi siapapun untuk mengungkapkan berbagai hal kepada seorang raja. Seperti yang kita tahu bahwa raja adalah seorang yang memiliki kewenangan tidak terbatas. Seorang yang ingin mengungkapkan gagasannya atau apapun dalam bentuk tulisan harus ekstra hati-hati dalam mengungkapkan gagasannya itu. Tidak boleh ada kata-kata yang menunjukkan kalau kita berbeda pendapat dengan raja. Secara umum tulisan itu harus menyiratkan kalau kita sepakat dalam banyak hal dengan sang raja. Demikian pulalah kiranya Machiavelli.

Kritik Standart: Politik kekuasaan yang dikemukakan machiavelli terlihat selalu di dasari oleh sikap curiga yang berlebihan. Ini dapat dilihat bagaimana gagasannya tentang bagaimana raja memilih orang-orang terdekatnya terutama para menteri. Doktrin-doktrin antisipasinya yang terasa berlebihan. Dan keterasingannya dengan dunia moral.

Karya Machiavelli (The Prince), lebih cocok digolongkan ke dalam tulisan-tulisan diplomatik (Rapar; 2001, hal., 382. Hal ini barangkali disebabkan oleh karena Machiavelli adalah mantan seorang diplomat. Lagipula tulisan Machiavelli ini adalah bentuk dialog seorang rakyat biasa kepada seorang raja. Tentulah Machiavelli harus memilih kata-kata serta menyusun kalimat yang tidak menyinggung perasaan raja namun tetap agar apa yang ingin diungkapkannya dapat tersampaikan kepada raja.

The Prince sesungguhnya bukanlah merupakan suatu uraian filsafat politik yang dipaparkan secara teratur dan sistematik (ibid, hal., 410). Kadang-kadang gagasan Machiavelli memang terlihat melompat-lompat. Misalnya Machiavelli diawal tulisannya lebih dahulu cerita tentang penertiban dengan kekuatan militer di negara baru. Padahal di negara baru tentu belum memiliki tentara yang kuat. Lalu di Bab berikutnya baru Machiavelli bercerita perlunya tentara yang kuat. Ini membingungkan dan menimbulkan pertanyaan tentang mana yang lebih penting bagi raja baru; Membangun tentara yang kuat atau menumpas pemberontak ? bisakah kedua-duanya dilakukan secara bersaman?

Menurut Rapar dalil-dalil yang telah diajukan orang lain dimasa silam dan pada masanya acap kali diterimanya begitu saja sebagai kebenaran yang tak perlu diuji kembali (ibid., hal., 411-412). Ini disebabkan Machiavelli adalah seorang yang praktis. Dalil-dalil itu juga sangat penting baginya untuk lebih memperkokoh pandangan-pandangannya.

Masih menurut Rapar Machiavelli tidak berupaya menggunakan pendapat dan pandangan yang ditimbanya dari sejarah purba secara cermat sehingga sewaktu-waktu terjadi salah kutip (ibid., hal., 412). Kritik ini mungkin dikemukakan Rapar setelah Rapar membaca karya Machiavelli. Dalam The Prince Machiavelli memang kelihatan sangat suka mengutip peristiwa masa lalu. Rapar adalah ilmuan dalam bidang filsafat. Jadi cukup paham sejarah.

Hannah Arendt menilai karya-karya Machiavelli kurang ilmiah (Arendt; 1968, hal., 136-137). Statement ini memang tidak dapat disangkal. Ini disebabkan karena tujuan Machiavelli dalam menulis The Prince adalah demi memberikan “petunjuk” kepada raja guna mewujudkan persatuan italia. Tulisan itu sendiri, memang tidak di dedikasikan guna perkembangan ilmu pengetahuan maupun teoritis. Satu alasan khusus mengapa Machiavelli menulis “The Prince” adalah karena keinginannya yang cukup kuat untuk menarik perhatian raja dengan menunjukkan kemampuannya dalam bidang strategi. Sepertinya Ia ingin agar raja mengangkatnya menjadi bagian dari pejabat kerajaan yang penting.

Dalam beberapa kesempatan tulisan Machiavelli mengungkapkan argumentasi yang kurang matang. Machiavelli bercerita betapa pentingnya rakyat dalam konsep benteng pertahanan rakyat yang dikemukakannya. Namun dalam “negara baru yang gabungan” yang belum memiliki pasukan dan benteng yang kuat Machiavelli justru menyarankan penertiban pemberontakan termasuk dengan membentuk koloni. Untuk sebagian hal barangkali karena alasan seperti inilah G.H. Sabine menganggap kalau “Machiavelli terlalu praktis untuk menjadi filsuf yang teliti” (Sabine; 1981, hal., 20).

Kritik J. R. Hale terhadap The Prince adalah bahwa “The Prince secara keseluruhan adalah hitam dan putih, dogmatic, esktrem, epigramatik” (Hale; 1986, hal., 27). Alasannya menurut Hale bahwa The Prince adalah karya yang mengulas negara namun sangat sukar dipahami. Isinya lebih banyak menceritakan apa yang terjadi saja.

Beberapa Catatan Penutup: Dibalik gagasan-gagasan Machiavelli dalam The Prince tentang cara mempertahankan kekuasaan, sebenarnya Machiavelli juga mengungkap cara-cara penguasa mempertahankan absolutisme kekuasaan. Konsekuensinya adalah bahwa gagasan Machiavelli akan sangat penting menjadi pisau analisa politik kekuasaan dalam negara authoritarian.

Sangat jauh dari apa tujuan Machiavelli menulis The Prince tentang sebuah negara mandiri, banyak para penguasa setelah zamannya pada akhirnya terjebak pada politik kekuasaan semata. Padahal Machiavelli sebenarnya sangat membedakan bagaimana seorang penguasa bertindak pada masa damai dengan pada masa darurat.

Untuk satu hal, semangat keadaan darurat Machiavelli telah memberikan gagasan tentang perlunya pengaturan keadaan darurat dalam suatu negara. Dewasa ini hampir tidak ada negara yang tidak memiliki undang-undang darurat. Meskipun dalam pemberlakuan keadaan darurat untuk konteks kekinian berarti mendelegasikan kekuasaan kepada pihak militer.

Pemikiran politik dalam The Prince memberikan inspirasi bagi cara-cara diplomasi politik internasional. Menurut Ahmad Suhelmi gagasan Machiavelli memberikan inspirasi bagi terciptanya aliran realisme (Suhelmi; 2001, hal., 132) karena asumsi-asumsi yang ada banyak berangkat dari apa yang pernah disinggung dalam pemikiran Machiavelli.

Akhirnya sumbangan “terpenting” pemikiran Machiavelli dengan masa kini adalah tentang pemisahan masalah moral dan politik. Moral diganti dengan konstitusi dan hukum-hukum universal. Dan politik hanya diatur berdasarkan hukum dan konstitusi itu. Konsepnya tentang “negara mandiri” malah tidak semakin menarik. Negara-negara maju malah menjalin kerjasama dan berusaha untuk membentuk univikasi-univikasi. Sementara sisanya, tentang pemikiran “otonomi kekuasaan” dianggap sebagai bentuk kekuasaan terburuk.

Referensi

Arendt, Hannah, Between Past and Future, Penguin Books, New York; 1968.

Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta; Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Hale, J. R., Machiavelli dan Negara Mandiri, dalam David Thomson, Pemikiran-Pemikiran Politik, PT Aksara Persada Indonesia; Jakarta, 1986.

Rapar, J. H., Filsafat Politik Plato, Aristoteles, Augustinus dan Machiavelli, PT Raja Grafindo Persada; Jakarta, 2001.

Sabine, George H., Teori-Teori Politik (2): Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya, Penerbit Bina Cipta; Jakarta, 1981.

Suhelmi, Ahmad, Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaaan, PT Gramedia Pustaka Utama; Jakarta, 2001.

4 Tanggapan to “The Prince: Mengungkap Praktek-Praktek Absolutisme Kekuasaan “Dulu”, “Kini” & “Nanti””

  1. Edu Pawangi Says:

    ‘Dulu” “Kini’ dab “Nanti”
    Tidak dijelaskan konsistentsinya………….

  2. Edu Pawangi Says:

    ‘Dulu” “Kini’ dan “Nanti”
    Tidak dijelaskan konsistentsinya………….

  3. Husnul Isa Harahap Says:

    Judul ini hanya ingin menungkapkan pesan bahwa buku “The Prince” itu merupakan buku yang memiliki pesan yang kompleks. Ketika Machiavelli mengatakan bahwa raja harus “buas” dan “licik”, itu merupakan responnya atas persoalan sikap Penguasa yang tidak mampu menguasai keadaan yang sangat rentan atas tindakan pengkhianatan dan berbagai ancaman baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Lebih-lebih karena situasi saat itu merupakan situasi yang sangat jauh dari situasi damai. Oleh karena itu pesan-pesan Machiavelli ini menjadi problem jika dilakukan dalam keadaan dimana situasi sudah cukup kondusif. Sementara itu meski dalam situasi yang tidak stabil dalam masa kini sudah tidak seharusnya ada aksi-aksi yang mengabaikan hak-hak rakyat karena hak-hak asasi manusia sudah menjadi sesuatu yang sangat dihargai bahkan dilindungi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: